Home / OPINI / Dua Sumber Unik George Coedes 1918

Dua Sumber Unik George Coedes 1918

#Dua Sumber, dua tempat dan Dua Kata Berbeda

Oleh : Faldi Lonardo*

Sebuah karya diharapkan memiliki sebuah pertanggung jawaban dan sama halnya, disaat rentetan peristiwa masa lalu yang disejarahkan merupakan hasil karya terbaik oleh para sejarawan yang bisa dipertanggungjawabkan secara moral atas pencatatan dan penyebaraluasan atas catatan – catatan peristiwa masa lalu yang dikemukakan atau ditulis secara apa adanya, sehingga diharapkan setidaknya terbebas dari unsur subyektivitas dan mampu menghindari tendensi tertentu sehingga tidak banyak mengandung makna bias.

Setelah dikabarkan Sriwijaya jatuh yang diperkiraan pada abad 13, Eksistensi Kedatuan Sriwijaya seakan lenyap dan terlupakan, hingga pada tahun 1918 di awal abad 20, George Coedes, seorang sejarawan Prancis menerbitkan sebuah artikel berbahasa Belanda yang berjudul “Leroyaume de sriwijaya” tentang adanya sebuah kerajaan maritim di Wilayah Indonesia yakni Provinsi Sumatera Selatan, semenjak itu dunia seakan tersentak dan menjadi hal menarik untuk ditelusuri.

Sebenarnya, Lima Tahun Sebelum Itu, yaitu pada tahun 1913 M, Prof. Dr. Hendrik Kern, telah menerbitkan artikel tentang Prasasti Kota Kapur berjudul “De Inscriptie van Kota Kapur”, yang Ditemukan JK Van Der Meulen Di Pulau Bangka Pada Bulan Desember 1892 M dan pada masa itu prasasti ini diklaim merupakan salah satu Prasasti Peninggalan Sriwijaya yang ditemukan pertama kali di Dunia, namun saat itu, Kern masih menganggap nama Sriwijaya yang tercantum pada Prasasti tersebut sebagai nama seorang Raja, Karena kata “Cri” pada kata “çrivijaya” biasanya digunakan sebagai sebutan atau gelar seorang Raja.

Kemudian, pada tahun 1896 M, seorang sarjana Jepang Takakusu menerjemahkan karya I-Tsing(635-713), yang berjudul Nan-Hai-Chi-Kuei-Nai Fa-Chan yang selesai ditulisnya pada tahun 692 M ke dalam bahasa Inggris dengan Judul A Record Of The Budhist Religion As Practised In India And The Malay Archipelago.

Namun yang menjadi hal ini menjadi unik, saat Coedes di masa itu, menetapkan Sriwijaya sebagai sebuah Kerajaan yang berpusat di Pulau Sumatera, dengan mendasar pada kedua sumber itu, yakni Prasasti Kota Kapur dan buku karya I Tsing tersebut meski didalam buku itu tidak menyebut dan menulis kata Crivijaya (Sriwijaya), yang ada hanya Shih Li Fo Shih.

Prasasti Kota Kapur itu dibuat pada tahun 608 Saka atau tahun 686 Masehi ditulis menggunakan aksara Pallawa dan berbahasa Melayu Kuno dan I Tsing menyelesaikan buku itu tahun 692 Masehi berbahasa Cina, yang kedua sumber itu hanya berselang 6 tahun saja.

Berikut isi didalam prasasti batu kapur berisi :

Siddha titam hamba nvari i avai kandra kayet ni paihumpaan namuha ulu lavan tandrun luah makamatai tandrun luah vinunu paihumpaan hakairum muah kayet ni humpa unai tunai.

Umentern bhakti ni ulun haraki. unai tunai kita savanakta devata mahardika sannidhana. manraksa yan kadatuan çrivijaya. kita tuvi tandrun luah vanakta devata mulana yan parsumpahan.

paravis. kadadhi yan uran didalanna bhami paravis hanun. Samavuddhi lavan drohaka, manujari drohaka, niujari drohaka talu din drohaka. tida ya.

Marppadah tida ya bhakti. tida yan tatvarjjawa diy aku. dngan diiyan nigalarku sanyasa datua. dhava vuathana uran inan nivunuh ya sumpah nisuruh tapik ya mulan parvvanda datu çriwi-

jaya. Talu muah ya dnan gotrasantanana. tathapi savankna yan vuatna jahat. makalanit uran. makasuit. makagila. mantra gada visaprayoga. udu tuwa. tamval.

Sarambat. kasihan. vacikarana.ityevamadi. janan muah ya sidha. pulan ka iya muah yan dosana vuatna jahat inan tathapi nivunuh yan sumpah talu muah ya mulam yam manu-

ruh marjjahati. yan vatu nipratishta ini tuvi nivunuh ya sumpah talu, muah ya mulan. saranbhana uran drohaka tida bhakti tatvarjjava diy aku, dhava vua-

tna niwunuh ya sumpah ini gran kadachi iya bhakti tatvjjava diy aku. dngan di yam nigalarku sanyasa dattua. çanti muah kavuatana. dngan gotrasantanana.

Samrddha svasthi niroga nirupadrava subhiksa muah vanuana paravis chakravarsatita 608 din pratipada çuklapaksa vulan vaichaka. tatkalana

Yan manman sumpah ini. nipahat di velana yan vala çrivijaya kalivat manapik yan bhumi java tida bhakti ka çrivijaya.

Dengan terjemahan :

Keberhasilan ! (disertai mantra persumpahan yang tidak dipahami artinya)

Wahai sekalian dewata yang berkuasa, yang sedang berkumpul dan melindungi Kadātuan Śrīwijaya ini; kamu sekalian dewa-dewa yang mengawali permulaan segala sumpah !

Bilamana di pedalaman semua daerah yang berada di bawah Kadātuan ini akan ada orang yang memberon­tak yang bersekongkol dengan para pemberontak, yang berbicara dengan pemberontak, yang mendengarkan kata pemberontak;

yang mengenal pemberontak, yang tidak berperilaku hormat, yang tidak takluk, yang tidak setia pada saya dan pada mereka yang oleh saya diangkat sebagai datu; biar orang-orang yang menjadi pelaku perbuatan-perbuatan tersebut mati kena kutuk biar sebuah ekspedisi untuk melawannya seketika di bawah pimpinan datu atau beberapa datu Śrīwijaya, dan biar mereka

dihukum bersama marga dan keluarganya. Lagipula biar semua perbuatannya yang jahat; seperti meng­ganggu:ketenteraman jiwa orang, membuat orang sakit, membuat orang gila, menggunakan mantra, racun, memakai racun upas dan tuba, ganja,

saramwat, pekasih, memaksakan kehendaknya pada orang lain dan sebagainya, semoga perbuatan-perbuatan itu tidak berhasil dan menghantam mereka yang bersalah melakukan perbuatan jahat itu; biar pula mereka mati kena kutuk. Tambahan pula biar mereka yang menghasut orang

supaya merusak, yang merusak batu yang diletakkan di tempat ini, mati juga kena kutuk; dan dihukum langsung. Biar para pembunuh, pemberontak, mereka yang tak berbakti, yang tak setia pada saya, biar pelaku perbuatan tersebut

mati kena kutuk. Akan tetapi jika orang takluk setia kepada saya dan kepada mereka yang oleh saya diangkat sebagai datu, maka moga-moga usaha mereka diberkahi, juga marga dan keluarganya

dengan keberhasilan, kesentosaan, kesehatan, kebebas­an dari bencana, kelimpahan segala­nya untuk semua negeri mereka ! Tahun Śaka 608, hari pertama paruh terang bulan Waisakha (28 Februari 686 Masehi), pada saat itulah

kutukan ini diucapkan; pemahatannya berlangsung ketika bala tentara Śrīwijaya baru berangkat untuk menyerang bhūmi jāwa yang tidak takluk kepada Śrīwijaya.

Kalau secara terjemahan prasasti ini kebanyakan menyebutnya prasasti persumpahan dan lainnya menyebut prasasti ini tanda penyerangan Sriwijaya ke Jawa pada waktu itu, namun ada beberapa hal yang mesti di lirik kembali, yakni tentang pemberontakan, tentang datu Sriwijaya, bala tentaranya dan yang lebih menarik lagi adalah beraksara Pallawa dan berbahasa Melayu Kuno.

Kenapa itu menjadi menarik?.

686 M sesuai dengan penanggalan prasasti masa itu, mengindikasikan bahwa masyarakat dahulu sudah mengenal kata pemberontakan, kata Datu, kata Pallawa, kata Mantra, obat – obatan, Persumpahan, bersepakat berbahasa Melayu Kuno dan ilmu navigasi dalam sebuah penyerangan.

Kalaulah dari abad ke VII Kedatuan Sriwijaya ini terbentuk, apakah dalam kurun waktu antara Abad ke VII sampai Abad ke XIII, masyarakat dahulu tidak menulis letak persis Sriwijaya, dengan kesepakatan berbahasa dan pengetahuan navigasi yang tinggi pada masa itu.

Kemudian pada abad 13 yang katanya merupakan pasca keruntuhan Sriwijaya sampai awal Abad ke 19, tidak ada satu orang Indonesia pun yang mengenal Kedatuan yang konon menguasai kemaritiman di Dunia, mengapa dunia bungkam pada masa itu, kemana larinya, kemana hilangnya bukti – bukti otentik dari Kejayaan itu, sampai Goerge Coedes mengemukakannya di sebuah artikel dalam bahasa Belanda 1918.

Seterusnya tentang catatan I Tsing, dimana dari faktanya bahwa dia tinggal selama 6 bulan di Shi Li Fo Shi, 2 bulan di Melayu dan setelah itu selama 10 tahun tinggal di Shi Li Fo Shi (685 – 695) dan menerjemahkan sekitar 60 sutra (teks agama Buddha) ke dalam bahasa Tionghoa.

I-Tsing kembali ke Cina pada tahun 695 dan disambut oleh ratu Cina. mungkin Ratu Wu (690-705) yang sempat memproklamasikan diri sebagai Dinasti Zhou di sela kekuasaan Dinasti Tang.

Salah satu bundel catatan perjalanan I-Tsing diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh J. Takakusu pada 1896.

Berikut beberapa catatan I-Tsing tentang Shih Li Fo Shih :

Kota Fo-shih terletak di Sungai Fo-shih. Itu adalah pelabuhan utama dalam perdagangan dengan China. Pelayaran reguler antara Fo-shih dan Kwang-tung (Kanton, Guangzhou) dilakukan oleh sebuah kapal dagang Persia.

Jarak dari Kanton ke Fo-shih sekitar 20 hari pelayaran jika angin baik, atau kadang-kadang sebulan.

Raja Shih-li-fo-shih memiliki kapal-kapal, mungkin untuk berdagang, dan berlayar antara India dan Fo-shih.

Raja Shih-li-fo-shih juga merupakan penguasa negeri-negeri sekitar. Ia penganut agama Buddha.

Ibu kota (Fo-shih) adalah pusat pembelajaran agama Buddha di antara pulau-pulau di Laut Selatan. Di sana terdapat lebih dari seribu biksu.

Emas tampaknya berlimpah-limpah. Orang-orang biasanyamempersembahkan bunga lotus terbuat dari emas kepada (arca) Buddha. Mereka menggunakan buli-buli terbuat dari emas. Mereka memiliki arca-arca emas.

Orang-orangnya menggunakan kan-man(jubah atau kain panjang).

Kalau dilihat secara lebih mendalam, I Tsing merupakan biksu yang memiliki otak yang pintar, orang yang teliti dan mencatat sesuatu dengan detail, apakah sekelas dan sekaliber I Tsing begitu sangat ceroboh menulis  catatan perjalanannya dengan tidak mencantumkan nama suatu Kerajaan atau Negara saat dia berkunjung dan menetap selama 10 tahun di Shi Li Fo Shi, tanpa menyebut Sriwijaya sedikit pun.

Kalau I Tsing Sendiri tak menyebut Sriwijaya dalam Karyanya, kenapa lantas George Ceodes menyepakati tentang Shi Li Fo Shi dengan pemaknaan Sriwijaya pada masa itu yakni pada tahun 1918 Masehi dan apa yang mendasari Codes sehingga menyatukan kedua sumber itu yang secara nyata berbeda Crivijaya dan Shih Li Fo Shih dengan arti yang sama yakni Sriwijaya.

*Pemerhati Sejarah

Bagikan Ini Di :