Home / OPINI / Pancasila dan Kerajaan Pajajaran

Pancasila dan Kerajaan Pajajaran

Oleh : Wendy Hartono /Ketua KPW – STN Jawa Barat

Bung Karno pernah mengatakan bahwa dirinya bukanlah pencipta Pancasila yang ia cetuskan pertama kali pada tanggal 1 juni 1945 didepan sidang BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha – Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia),untuk dijadikan  dasar ideologi negara atau pegangan hidup bangsa Indonesia   melainkan sebagai  penggali Pancasila yang menjadi catatan sejarah sebagai hari lahirnya Pancasila yang kemudian dimasa pemerintahan Presiden Jokowi dijadikan hari libur nasional melalui Keputusan Presiden (Kepres) yang ditandatangi oleh Presiden Jokowi pada tanggal 1 Juni 2016 kemarin.

Rapat BPUPKI itu secara khusus membahas tentang dasar negara. Selain Sukarno, Supomo dan Mohamad Yamin juga merumuskan dasar-dasar negara. Masing-masing lima poin. Banyak dari poin-poin itu isinya nyaris serupa. Hampir-hampir sama prinsipnya dengan Pancasila yang dikenal negara Indonesia sekarang.

Bung Karno menegaskan bahwa dirinya hanyalah seorang  penggali Pancasila dari akar  adat dan tradisi peradaban Nusantara  yang sudah ada semenjak beberapa abad lampau, menurut Bung Karno Pancasila adalah jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia yang artinya adalah Gotong – Royong.jika kelima sila tersebut diperas menjadi Trisila yakni Sosio Nasionalisme,Sosio Demokrasi dan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Kemudian, Trisila tersebut diperas lagi menjadi Ekasila yang artinya Gotong – Royong atau hidup saling tolong – menolong yang menjadi ciri jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia, tidak mengenal budaya individualisme, sebuah pemahaman dinamis dimana yang kuat membantu yang lemah untuk kepentingan bersama, bukan yang kuat untuk menindas yang lemah.

Berbicara Pancasila hasil penggalian dari akar adat dan tradisi Nusantara tidak bisa kita lupakan sejarah dan  budaya Nusantara yang sangat beragam, akan tetapi memiliki kesamaan tatanan masyarakat yang mengedepankan budaya Gotong – Royong sebagai ciri khusus kepribadian bangsa  atau Sosialisme Ala Indonesia yang membedakan Indonesia dengan   bangsa – bangsa lain didunia.

Karena, Republik Indonesia didirikan bercorak kerakyatan yang dilaksanakan oleh golongan – golongan masyarakat yang telah menjadi miskin disebabkan Imperialisme dan kolonialisme, menjungkir balikan kekuasaan kapitalisme, melenyapkan sisa – sisa imperialisme, kolonialisme Belanda, feodalisme serta fasisme Jepang, untuk medirikan kekuasaan gotong – royong dan diatasnya dibangun masyarakat Indonesia yang adil dan makmur.

Mendirikan tatanan masyarakat adil dan makmur untuk menyelesaikan Revolusi Nasional Indonesia harus melibatkan semua golongan masyarakat secara nasional tidak bisa mengandalkan satu golongan saja dengan membangun semangat persatuan nasional, sifatnya demokratis dan kerakyatan  kekuasaan tertinggi sepenuhnya ada ditangan rakyat, karena jalannya revolusi di Indonesia berbeda dengan revolusi borjuis di Perancis tahun 1789 atau revolusi proletar di Rusia tahun 1917 yang tujuannya mendirikan kekuasaan kaum kapitalis atau kediktatoran kaum proletar.

Mengamati, meresapi  dan mempelajari tata cara hidup masyarakat Tatar Sunda  sesungguhnya  mempraktekan Pancasila dalam kehidupan sehari – hari,berdasarkan ajaran – ajaran leluhur yang disampaikan secara lisan dan turun – temurun dari generasi kegenerasi sebagaimana Prabusiliwangi menjalankan pemerintahan Kerajaan Pajajaran dengan menganut Ideologi Silih Asah, Silih Asuh dan Silih Asih yang artinya saling mengasah,saling mengasuh dan saling mengasihi dengan mengajarkan nilai – nilai luruh Budi pekerti wajib dilaksanakan oleh seluruh rakyat Pajajaran, semua hidup berdiri sejajar tidak kasta atau kelas – kelas sosial yang diistimewakan.

Jika kita melihat sejarah pada masa pemerintahan  Prabu Siliwangi dan Kerajaan Pakuan Pajajaran, Prabu Siliwangi dianggap sebagai tokoh panutan masyarakat Sunda, dihormati sebagai sosok pemimpin yang adil dan bijaksana. Dalam  sejarah masyarakat Sunda dan sangat dipuja oleh orang – orang berdarah Sunda, terutama orang – orang yang memegang ajaran Sunda Wiwitan seperti Suku Baduy. Memfigurkan Prabu Siliwangi sebagai sosok pemimimpin ideal bagi masyarakat Sunda dan diagungkan sebagai karuhun atau leluhur mereka.

Dibawah pemerintahannya ini  wilayah – wilayah  tanah Sunda dipersatukan dengan menitik beratkan pada pembinaan agama untuk diamalkan dalam kehidupan sehari – hari masyarakat dan rakyanya, perbedaan pandang  dan keyakinan, tidak menyebabkan sampai terjadinya pertumpahan darah . Sehingga  Kerajaan Pajajaran menjadi kerajaan besar dan kuat  dengan memprioritaskan pembangunan infrastuktur bangunan,jalan ,parit dan benteng – benteng pertahanan,pembinaan angkatan perang dan pasukan tempur. Membuat perekonomian  rakyat Pakuan Pajajaran berkembang pesat, menjadikan Pakuan Pajajaran    Kerajaan subur – makmur  gemah rifah lohjinawi.

Dari latarabelakang tersebut kenapa nama Prabu Siliwangi harum – mewangi sampai saat ini dimasyarakat Sunda sebagai sosok  seorang Raja pada zaman itu  penuh keadilan dan toleransi. Kejujuran dan keadilan merupakan titik berat pada masa pemerintahan beliau. Tak heran jika sampai hari ini, hingar bingar kebesaran nama beliau masih terasa, meskipun ratusan tahun telah berlalu sejak Prabu Siliwangi memutuskan untuk moksa atau menghilang dari alam nyata.

Apabila kita Melihat  situasi dan kondisi bangsa Indonesia saat ini dalam kehidupan bernenegara. hubungan antara rakyat dan pemerintah yang sedang mengalami masa transisi,ketidak adilan  dan ketimpangan sosial terjadi dimana – mana, politik identitas muncul didasari perbedaan agama dan etnis berkembang merongrong persatuan nasional, disebabkan pemerintah berkuasa menjalankan roda pemerintahan lebih mengedepankan pembangunan infrastuktur yang bertumpu pada bantuan modal asing, menyingkirkan rakyat dari lahan garapan dan pemukiman penduduk secara paksa untuk pembangunan bandara,jalan – jalan kereta api dan pelabuhan,  kegunaannya bukan untuk kepentingan rakyat melainkan untuk memudahkan distribusi komoditas produksi  korporasi – korporasi asing yang beroperasi di negeri ini.

Sosok pemimpin adil dan bijaksana seperti  Prabu Siliwangi sedang dinanti kehadirannya sebagai sosok pemersatu bangsa, mendirikan  masyarakat adil dan makmur membuat rukun kehidupan rakyat, hidup berdampingan secara damai sebagaimana Pakuan Pajajaran tempo dulu dibawah kepemimpinan Beliau secara adil dan bijaksana, sehingga menjadi tokoh pemimpin yang dibanggakan oleh sebagian besar orang Sunda, walaupun beratus – ratus tahun lampau  Beliau hidup  membawa kehidupan Rakyat Pakuan Pajajaran adil dan makmur sebagaimana di cita – citakan juga oleh  para pendiri bangsa memerdekan Indonesia yang diproklamasikan 17 agustus 1945 dengan berlandaskan Pancasila dan UUD 1945.

Bagikan Ini Di :