Home / OPINI / Wisuda ; Sebuah Parade Paradoksal

Wisuda ; Sebuah Parade Paradoksal

Oleh : Kurnio Cipto*

Nampak di Sabtu pagi kampus biru ku bersuasana yang mengharu biru, dengan rona wajah ceria yang dipadukan dengan gaun menguntai, dihiasi dengan make up minimalis, setelan jas dengan sedikit terlihat garisan simetris bekas setrikaan, oh ya hari ini kampusku, UIN Raden Fatah Palembang telah resmi mewisuda 641 sarjana baru dengan berbagai disiplin ilmu masing-masing. Dengan penuh semangat, pak rektor pun menyalami para wisudawan disertai ucapan selamat.

Hari itu menjadi sebuah hari yang memorable bagi para wisudawan betapa tidak, setelah bertahun-tahun bergelut dengan kegiatan akademis, bergumul dengan emosi dan tuntutan diseliling, menjadi terbayarkan, terlebih lagi untuk orang tua dari kalangan kurang mampu begitu bangga mereka bisa menceritakan sang anak satu satunya ketika memakai toga, oh bak oase di Padang Sahara.

Dibalik kebahagiaan itu, wisuda tak ubahnya sebuah Parade Paradoksal yang dihiasi dengan pernak-pernik keindahan serta mempunyai keistimewaan tersendiri bagi para pemeluk nya (baca; Mahasiswa).

Paradoks Indonesia
Paradoks ini tidak ada kaitannya dengan salah satu calon yang sedang berkontestasi di panggung pilpres yang akan datang, paradoks ini hanya lah sebuah refleksi dimasa masa perjuangan penyusunan skripsi. Diawal masa bimbingan dosen pembimbing ku selalu mengatakan skripsi itu bukan untuk mencari judul, tapi fokuslah mencari masalah jadi nanti ketika masalah itu kamu angkat dalam skripsi mu, maka akan bermanfaat di masa yang akan datang.
Namun ketika selesai pergolakan pemikiran itu, gumulan teori diatas kertas kemudian ku implementasi dalam sebuah penelitian sehingga menjadi sebuah karya ilmiah berupa skripsi yang akhirnya membawa ku menuju gelar kesarjanaan itu,
Dengan sedikit kontemplasi berdasarkan data BPS per Maret 2017 untuk kampus negeri ada dua yaitu UIN dan Unsri dan 115 kampus swasta di Sumatera Selatan.
Jika dalam sekali wisuda setidaknya ada kurang lebih 600 sarjana baru dari UIN Raden Fatah Palembang, jika dalam setahun ada 4 kali wisuda per triwulan maka UIN Raden Fatah Palembang telah melahirkan kurang lebih 2400 sarjana baru, dan Universitas Sriwijaya sekiranya 6 kali wisuda dengan asumsi 1000 sarjana per wisuda kurang lebih 6000 sarjana baru dari Universitas Sriwijaya. Belum di 115 perguruan tinggi lain.
Jika diakumulasikan, maka kurang lebih ada 20.000 sarjana muda yang telah dilahirkan di Sumatera Selatan. Belum lagi jika diakumulasikan se Indonesia menurut data BPS ada 3280 perguruan tinggi (99 PTN, 3181 PTS)
Artinya ada kurang lebih 800.000 masalah yang diangkat untuk menjadi judul skripsi yang tentunya telah dipecahkan oleh para sarjana tersebut dalam satu tahun, kurang lebih ribuan teori baru tercipta demi penyelesaian masalah yang diangkat.
Namun nyatanya, makin hari Indonesia makin banyak masalah, hukum makin hari makin timpang, pendidikan makin hari makin kehilangan Sukma nya yaitu sebagai alat pembebasan, justru menjadi alat pemerasan kaum kapitalis untuk menjadi lahan komersial, ekonomi yang semakin tak menentu, politik yang semakin gaduh dan sederet masalah yang seharusnya terselesaikan oleh para sarjana muda tersebut.

Paradoks Perpindahan Kuncir Toga
Perpindahan kuncir toga adalah momen utama dalam prosesi wisuda, sebagai legalisasi atas hak pakai gelar yang akan menyemat setelah nama pemilik nya nanti, juga sebagai bentuk apresiasi terhadap pergumulan panjang sebagai insan akademis. Dalam prosesi itu pula tak lupa Pak Rektor pun seraya tersenyum simpul menghaturkan kata “Selamat”,
Namun dibalik kata “selamat” yang terucap itu sejatinya merupakan akronim dari sebuah kalimat abstraksi antara “selamat nak, semoga sukses” atau “selamat menikmati masa pengangguran nak”.

Paradoks Di Langkah Awal
Wisuda memang lah menjadi salah satu momen yang membahagiakan dalam hidup seseorang, namun nyatanya kebahagiaan itu hanya berbatas dalam 10 langkah awal menuju berpindah nya kuncir toga, satu langkah setelah itu mulailah bergentayangan pertanyaan pertanyaan serta kekalutan dalam diri siapa aku? kan jadi apa aku setelah ini? Apa yang bisa kuberikan kepada orang tersayang dengan selembar ijazah ini?
Beruntunglah bagi mahasiswa yang ketika dimasa perkuliahan nya dimanfaatkan untuk hal hal yang menunjang untuk karier kedepan seperti memulai membiasakan diri dengan cara bekerja paruh waktu untuk menambah Pengalaman, mengembangkan potensi diri dan dunia usaha, serta ikut terlibat dalam kegiatan dan organisasi dikampus yang memberikan pembelajaran tentang kepemimpinan, manajerial serta profesional. Bagi mahasiswa Kupu-kupu (kuliah-pulang kuliah-pulang), oh ini merupakan momok yang menakutkan.

Bonus :
Paradoks Pejuang Veteran
Salah satu momen yang membahagiakan di waktu wisuda adalah seusai prosesi tersebut, ya diluar sana banyak rekan kerabat yang telah menunggu untuk mengucapkan selamat dan tak sedikit yang memberikan kenang kenangan berupa bunga dan hadiah lainnya, namun bagi wisudawan veteran (baca; mahasiswa 14 sementer) yang hanya bawa orang tua, setelah acara selesai, masuk mobil cus cepat cepat pulang biar ngga terlalu ngenes lihat teman yang lain ketika keluar ruangan sudah dinanti oleh teman-teman seperjuangan (karena teman yang lain sudah mendahului 3 tahun lalu) , udah semester tua jomblo lagi. Kelar tuh idup.

Sebagai penutup bahwa salah kiranya jika paradoks diatas selalu menghantui dalam diri setiap wisudawan,
Namun tidak boleh larut dalam lautan kegalauan, bagi para wisudawan teruskan berkarya sesuai dengan disiplin ilmu masing-masing, karena sejatinya ilmu merupakan alat pengabdian,
Perubahan di Masa depan tidak perlu dipertanyakan karena ia hanya objek yang bisa dirubah, patutnya yang akan memegang nya yang dipertanyakan karena ialah subjek yang harusnya mampu merubah .

Teruntuk para calon wisudawan persiapkan diri untuk menghadapi tantangan pasca perkuliahan nanti,
Terus asah potensi, kembangkan skill baik berupa soft skill maupun hard skill supaya nanti ketika masa itu tiba paradoks itu bukanlah menjadi sebuah Parade yang selalu dipertontonkan di setiap momen wisuda.

*Penulis adalah Alumni Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Raden Fatah Palembang

Bagikan Ini Di :