Home / OPINI / Merawat HMI, Merawat Bangsa

Merawat HMI, Merawat Bangsa

Oleh: Arif Wicaksono*

 

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya.10 November 2018 Indonesia memperingati hari pahlawan nasional yang ke-73.hari pahlawan selalu diperingati dengan berbagai kegiatan dan penghayatan, semisal upacara penghormatan. hari nasional ini ditetapkan melalui Keppres No. 316 tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959.

Penetapan hari pahlawan nasional tidak terlepas dari peristiwa Surabaya yang terjadi pada tahun 1945 dimana para tentara dan milisi Indonesia yang sangat menginginkan kemerdekaan berperang melawan tentara Britania dan belanda

sejarah perjalanan bangsa Indonesia tidak terlepas dari betapa gigih dan kuatnya para pejuang Bangsa yang telah mengorbankan jiwa, raga, nyawa dan darahnya dalam melawan penjajah demi Indonesia yang kita cintai.

Dalam upaya merebut dan mengisi kemerdekaan Sampai tahun 2018, 160 Pria dan 13 wanita telah diangkat sebagai pahlawan nasional, yang paling terbaru adalah Lafran Pane, Sultan Mahmud Riayat Syah, Malahayati dan Muhammad Zainuddin Abdul Madjid pada tahun 2017.

Pahlawan-pahlawan Indonesia berasal dari seluruh wilayah, dari Aceh di bagian barat sampai Papua di bagian timur. Mereka berasal dari berbagai etnis, meliputi pribumi Indonesia, etnis Arab, etnis Tionghoa, etnis India, dan orang Eurasia. Mereka meliputi perdana menteri, gerilyawan, menteri-menteri pemerintahan, prajurit, bangsawan, jurnalis, dan ulama.

Diantara pejuang bangsa salah satunya adalah Lafran pane yang telah mengorbankan dirinya demi kepentingan bangsa dan Negara.

Lafran Pane dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo pada 9 September 2017 lalu.

Lafran Pane lahir di Padang Sidempuan pada 5 Februari 1922 dan wafat pada 24 Januari 1991. Lahir dari sosok ayah seorang guru dan seniman Batak Mandailing Natal.

Ayahnya Sutan Pangurabaan Pane merupakan sosok pendiri Muhammadiyah di Sipirok pada tahun 1921. Kakaknya Sanusi Pane dan Armijn Pane adalah sosok sastrawan dan seniman.

Sepanjang karirnya, Lafran Pane menjadi Dosen Di UGM, UNY, dan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Lafran pane juga mendedikasikan hidupnya untuk agama yang dipeluknya.

Ia meninggal pada 24 Januari 1991 di rumah dinas IKIP PGRI Yogyakarta. Sampai akhir hayatnya, Pahlawan Nasional yang satu ini tidak pernah memperkaya dirinya, termasuk tidak memiliki rumah pribadi.

Lafran Pane hingga akhir hayatnya adalah dosen, tidak pernah jadi anggota partai politik mana pun, Sosok Lafran dikenal menjadi tokoh yang sederhana dan mededikasikan hidupnya untuk perkembangan pendidikan Indonesia.

*Lafran Pane dan HMI*

Lafran Pane Mengatakan bahwa Agama Islam bukan hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, melainkan hubungan antara manusia yang satu dengan yang lainnya, baik lingkup keluarga hingga lingkup masyarakat dan negara. Berkaitan dengan itu, ia meyakini bahwa Islam berisi peraturan-peraturan dan tuntunan-tuntunan untuk segala aspek kehidupan.

Menurut Lafran Pane, setelah kemerdekaan, dampak kolonialisme Belanda tidak serta-merta lenyap, khususnya dari mereka yang semata-mata menerima pengajaran di lembaga-lembaga kolonial. Contoh pengaruh tersebut adalah pandangan yang menganggap bangsa Barat dalam segala hal lebih dari penduduk lokal.

Lafran Pane meyakini bahwa jika ajaran Islam dipraktikkan oleh rakyat Indonesia dalam segala lapangan hidup dengan sebaik-baiknya, Belanda tidak mungkin bisa menjajah dan mengekploitasi bangsa Indonesia dalam kurun waktu yang sangat lama.

Pejajahan dimungkinkan karena Belanda mengetahui lemahnya pendidikan Islam pada mayoritas masyarakat Indonesia. Islam mengajarkan bahwa semua manusia itu setara dan perbudakan amat ditentang. Pemikiran Lafran pane terhadap Indonesia dan Islam

Belum banyak orang yang mengetahui kiprah dan sumbangsih Lafran Pane dalam memajukan negeri pasca-proklamasi.

Namun, pemikirannya menjadi dasar pergerakan organisasi mahasiswa Islam yang moderat di Indonesia.

Dimana pun kau perkiprah tak menjadi masalah. Yang terpenting Ke-Islaman Dan Ke-Indonesiaan itu yang harus kau pegang.

“Sesungguhnya, tahun-tahun permulaan riwayat HMI adalah hampir identik dengan kehidupan Lafran Pane sendiri. Karena dialah yang punya andil terbanyak pada mula lahirnya HMI kalau tidak boleh kita katakan sebagai tokoh pendiri utamanya.” (Media, No. 7. Th. III. Rajab 1376 H/ Februari 1957 h. 32)

Dengan ungkapan ini jelaslah hubungan Lafran Pane dengan HMI tidak bisa dipisahkan. Latar belakang pemikiran Lafran Pane untuk mendirikan HMI, adalah juga identik dengan latar belakang muncul pemikiran HMI.

Lafran pane mendirikan Himpunan Mahasiswa Islam sebagai aktualisasi dari pandangannya tentang Islam dan Indonesia. HMI dilahirkan sebagai suatu tindakan terhadap situasi bangsa, kondisi Islam Dunia secara Internasional, kondisi Mikrobiologis umat Islam di Indonesia, dan Kondisi Perguruan tinggi dan Mahasiswa Islam di Indonesia.

Sesuai dengan konteksnya, latar belakang munculnya pemikiran HMI ialah Penjajahan Belanda atas Indonesia dan tuntutan perang kemerdekaan, Kesenjangan dan kejumudan umat Islam dalam pengetahuan, pemahaman dan penghayatan serta pengamalan ajaran-ajaran Islam, Kebutuhan akan pemahaman, penghayatan keagamaan, Munculnya polarisasi politik, Perkembangan paham dan ajaran komunisme dikalangan masyarakat dan Mahasiswa, Kedudukan Perguruan Tinggi dan dunia kemahasiswaan yang strategis, Kemajemukan bangsa Indonesia, Tuntutan modernisasi dan tantangan masa depan

Dengan mendirikan HMI, Islam mendapat peran yang lebih tinggi di antara mahasiswa, yakni Islam bukanlah sekumpulan kaum yang mempertahankan tradisi dan pengetahuan tradisional.

tanggal 14 Rabiul Awal 1366 H, bertepatan pada tanggal 5 Februari 1947 M secara resmi didirikan dan dideklarasikan Himpunan Mahasiswa Islam atau HMI oleh Lafran Pane dan menjadi Organisasi Mahasiswa Tertua dan terbesar di Indonesia saat ini.

Pada awal pembentukan, Himpunan Mahasiswa Islam mempunyai tujuan, yaitu :
1). Mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat
2). Menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam.

Kita akan sedikit menggali peranan Himpunan Mahasiswa Islam terhadap Indonesia. Lahirnya Himpunan Mahasiswa Islam dua tahun setelah Indonesia merdeka tentu memiliki peran dan kontribusi besar terhadap pembangunan bangsa Indonesia. keterlibatan organisasi maupun melahirkan kader-kader terbaiknya untuk mengisi kemerdekaan.

Kemudian diawal pembentukan HMI bertekad Mempertahan kemerdekaan dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia sesuai dengan tujuan HMI yang digariskan, maka konsekuensinya dalam masa perang kemerdekaan, HMI terjun secara langsunge ke pertempuran melawan Belanda, dalam upaya membantu pemerintahan

Dalam perjuangan menumpas PKI keterlibatan HMI pun terlihat 18 September 1948, Wakil Ketua PB HMI Ahmad Tirtosudiro membentuk Corps Mahasiswa dengan Komandan Hartono, Wakil Komandan Ahmad Tirtosudiro untuk menghadapi pemberontakan Madiun.

HMI ikut membantu pemerintah menumpas pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Madiun dengan menggerakkan anggota CM ke gunung-gunung memperkuat aparat pemerintah.

Sejak itulah dendam PKI terhadap HMI tertanam dan terus berlanjut sampai puncaknya pada tahun 1964-1965 yaitu gerakan pengganyangan terhadap HMI menjelang meletusnya Gestapu/PKI 1965.

1969 Setelah Orde Baru mantap dan Pancasila serta Undang-Undang Dasar 1945 sudah dilaksankan secara murni dan konsekuen, maka sejak tanggal 1 April 1969 dimulailah rencana pembangunan lima tahun, HMI turut serta berkontribusi partisipasinya dalam pembangunan diantaranya : Partisipasi dalam pembentukan suasana, situasi dan iklim yang memungkinkan dilaksanakannya pembangunan, Partisipasi dalam pemberian konsep-konsep di berbagai aspek pemikiran.

Produktifitas kader HMI dalam pemikiran selalu dikeluarkan baik pemikiran pembaharuan Islam, ekonomi, politik, sosial dan budaya selalu mewarnai kehidupan kebangsaan Indonesia, dalam berjuang bagi kemajuan masyarakat, salah satunya pemikiran Lafran pane itu sendiri tentang Keadaan dan Kemungkinan Kebudayaan Islam di Indonesia.

HimpunanHimpunan Mahasiswa Islam selalu memerankan diri dan berkontribusi terhadap kemajuan masyarakat Indonesia secara produktif.
Tidak sampai disitu Himpunan Mahasiswa Islam sebagai organisasi perkaderan terus melahirkan kader kader terbaik tokoh intelektual, pemimpin politik, cendikiawan muslim, aktivis sosial, birokrat, pengusaha dan kaum profesional yang telah menyebar luas di seluruh Indonesia.
Nurkholis madjid, Ahmad Wahib, Munir, Ahamd Dahlan ranuwiharja, Jusuf Kalla dan masih banyak lagi.

Dengan berbagai permasalahan kebangsaan, ketimpangan sosial, ekonomi, korupsi, hoax, kesehatan, pendidikan dan politik. Momentum sumpah pemuda diharapkan dapat menjadi pemacu semangat bagi generasi penerus bangsa untuk tetap berjuangan mewujudkan kebajikan dan berkontribusi menjadi harapan bagi bangsa dan Negara.

Sosok dan pemikiran Lafran pane seharusnya dapat menjadi telaga hikmah pada momentum hari pahlawan nasional bagi generasi penerus bangsa untuk tetap menggelorakan semangat dalam berjuangan demi kemajuan bangsa dan Negara.

Siapa yang pernah menyangka usaha Lafran pane mendirikan sebuah wadah perjuangan umat dan bangsa tetap selalu memberikan kontribusi nyata terhadap negeri.

Sepanjang usianya Indonesia dan HMI tidak dapat dipisahkan satu sama lain, HMI merupakan anak kandung Negara kesatuan Republik Indonesia sudah seharunya sebagai masyarakat dan generasi bangsa untuk merawat dan menjaga keduanya.

Dalam momentum hari pahlawan nasional ini mengilhami tokoh pahlawan nasional adalah sebuah keharusan dalam upaya membangun bangsa dan negara yang dicita-citakan, Indonesia yang bersatu berdaulat adil dan makmur serta diridhoi Allah SWT

Dari para pahlawan lah semestinya kita harus belajar siapa yang mau berjuang niscaya harus bersedia menanggung kerugian kecil yang bersifat sementara untuk diri sendiri. Dengan terus yakin dan percaya kepada usaha mewujudkan kebajikan bagi orang banyak.

Merawat Indonesia adalah kewajiban Merawat HMI adalah keharusan. Dengan harapan Himpunan Mahasiswa Islam menjadi harapan bagi Masyarakat Indonesia dengan terus melahirkan generasi yang mampu mengemban amanah sebagai kader umat dan kader bangsa.

Dari para pahlawan lah kita diajarkan tidak ada usaha dan keberhasilan tanpa jeripayah.

 

*Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Palembang periode 2017/2018

Saat ini menjabat sebagai Kordinator *Indonesia Election Watch* Provinsi Sumatera Selatan

Bagikan Ini Di :